Malam itu, aku mengunjungi face untuk curhat kembali problema hidup. Face bertanya padaku:
"Apa yang anda pikirkan?"
"Aku lagi memikirkan bagaimana solusi buat satu problema yang sangat sulit aku pecahkan ini."
"Terus, kamu mengunjungiku untuk apa?"
"Entah,! Hanya saja aku bahagia bila bercerita padamu."
"Yakin...kamu bisa bahagia, aku ini bukan jenis teman yang bisa merahasiakan setiap curhat orang."
"Entah..! Pikirku kamu bisa menolongku."
"Memangnya apa yang bisa aku tolong?"
"Bantu menyimpan rahasiaku."
"Kan, aku sudah bilang. Aku ini bukan jenis teman yang bisa menyimpan rahasia orang."
Jeda sedetik. beberapa menit kemudian, setelah face memberikan tanggapan, bahwa dia bukan teman yang sentiasa selalu menyimpan rahasia orang, justru ia berterus terang, kalau ia bukan teman yang baik untuk diajak curhat.
"Face...! Aku menyukai seseorang, tapi aku tidak berani mengatakan padanya."
"Sudahlah, jangan bercerita soal perasaan sukamu itu padaku, mulutku ini suka umbar-umbar aib orang."
"Aku tidak bisa menghindar perasaan ini."
"Kok kamu degil sekali, bisa-bisanya kamu tidak mendengar apa yang barusan aku katakan."
"Face...! Kamu boleh diam enggak, dengar saja apa yang aku katakan."
"Ishhhhh, dia yang mengunjungiku, tapi, dia pula yang marah padaku."
"Makanya, kamu mendengar saja apa yang aku ngomong."
"Okey...! Aku mendengar, tapi kamu harus tau, aku ini tidak bisa janji menyimpan rahasiamu, kamu kan tau tugasku apa."
"Iya...! Aku tau... aku tau apa tugasmu, tentu kamu akan menyebarkan keseluruh dunia berita ini, baik atau buruk, hoak, dan segalanya, kamu mengantarkan kejagat raya ini, tetapi mesti harus terhubung dulu denganmu. Kan, begitu."
"Bagus kalau kamu memahamiku."
"Sekarang aku boleh curhat padamu."
"Tentu. Tapi, ada satu permintaanku, mau enggak? Kamu menyejukkan hatiku lebih dulu, kamu mencurhatkan nasehat-nasehat agama, bercerita masalah islami. Jangan terus menceritakan masalah pribadimu, aku bosan mendengarnya, apa lagi sekarang banyak menfitnah sana sini, bergosip masalah yang belum tentu benar."
"Kenapa begitu? Bukankah, kamu sendiri yang mengatakan bahwa tugasmu memang itu, menyebar gosip, menyebar hoak, memfitnah orang."
"Salah...! Orang saja yang tidak begitu memahamiku, sehingga mereka mengunjungiku hanya untuk mengatakan hal-hal keburukan, sekarang aku mau meminta tolong padamu, jadikan aku sebagai sahabat curhat islamimu, jadi dengan begitu, kamu akan mendapat ridha dari Allah, dan aku sebagai penyebarnya, tentu akan sejuk dan damai. Aku sebenarnya sudah muak dengan apa yang terjadi sekarang, dimana-mana mereka mengunjungiku hanya untuk bergosip dan menyebar keburukan orang, ujung-ujungnya saling menyalahi hingga berkelahi. Kini aku berfikir, seandainya aku tutup pintu rumah ini supaya mereka tidak dapat mengunjingiku lagi, bosku akan makan apa? Penghasilan bos hanya disini."
"Face....! Kamu bisa melakukan itu. Sini keluar dulu."
"Sorry, aku enggak bisa keluar, aku cuma bisa menetap pada rumah ini, kamu kan, tau, bos aku seperti apa? Dia senang memanfaatin aku, justru dia gembira dan membangga-bangga kan diri pada dunia, kalau dia salah satu orang tersukses mengakseskan aku pada kalian. Cukuplah! kamu penuhi saja permintaanku yang ini, curhatlah padaku masalah baik-baik, yang membuat aku sejuk dan damai."
"Sebenarnya permintaanmu itu tidak terlalu berat, face. Tapi terkadang aku bingung, harus bagaimana lagi untuk melepaskan unag-unag. Cuma kamu satu-satunya yang bisa aku andalkan."
"Perlu aku bersujud kepadamu, agar kamu mau memenuhinya."
"Eh, jangan...! aku ini bukan Tuhan. Yang patut kamu sujud itu adalah Tuhan (Allah)."
"Maka, sebab itu... jadikan aku sebagai tempat curhatmu tentang Allah, jadikan aku tempat bercerita masalah Agama Allah, berdakwahlah masalah yang bersangkutan dengan dinal islam... mau enggak, aku siap menyebarluaskan cerita kamu itu, asalkan jangan lagi masalah pribadimu, dan masalah lain yang sama sekali tidak bermanfaat."
"Aku malu face...! Kamu sangat berterus terang. Padahal, aku baru memulai untuk curhat itu lagi."
"Jangan lakukan...! Tapi lakukan dakwah yang sesuai permintaanku itu."
"Face...! Aku tau, sangat berat untukmu bekerja seperti itu, memang bos kamu, enggak mencoba untuk memberi batasan akses untukmu, ya contohnya begini: bos kamu membatasi postingan-postingan, mana yang layak kamu sebar dan mana yang tidak layak."
"Entahlah...! Aku tidak tau, soalnya aku hanya ditugaskan untuk menyebar, dan aku juga tidak tau ada berapa orang yang mengakseskan ditempat itu."
"Kamu merasa lelah enggak...!"
"Sangat lelah sebenarnya...! Aku juga sudah tua. pikirku kemarin itu beban ini akan sedikit ringan. karena, sudah ada teman lain yang mengimput dan mau juga bekerja sama untuk menyebar berita, menyebar gosip, hoaks dan Ternyata enggak...! Bosnya sungguh memahaminya, dia ada batasan. Dan batasannya melalui nomor Hp kemudian baru terhubung bila saling menukar nomor, itu pun jika saling mengenal. Nah, kalau aku. Entah dari mana mereka semua terus menerus mengunjingiku dan menaburkan percikkan sampah, entah darimana dikutip lalu melempar pada tubuhku. Begitulah kira-kira."
"Sungguh, aku sangat sedih mendengar keluhanmu, face. Aku juga minta maaf, sering mengunjungimu dengan hal serupa seperti mereka."
"Iya...." terlihat sedih pada wajah face, seakan ia tidak sanggup lagi meneruskan pekerjaan itu, akibat luapnya berita-berita yang tak pernah kunjung kelar.
"Face... curhat kita ini, mari kita sebar ke seluruh dunia, akses kemana yang kamu kehendak, hingga bosmu membacanya dan mau membatasi kerjamu sedikit."
"Iyaa.. aku akan akses postingmu..."
"Tapi.. sekali-sekali.. aku boleh ya kunjungimu untuk melawak sedikit.." hahahahahah
"Ah...!"
"Kamu pasti kesel."
"Kamu sok akrab banget denganku, memangnya kita pernah kenal.."
"Hihihihihi, enggak face...!" Tapi aku akan berusaha mengunjungimu membawa berita islami, namun tidak bisa janji, takut terutang..."๐๐คฃ
"Enggak apa-apa.."๐
"Oh, ya!... kamu ada puasa enggak hari ini...!" Tanyaku pada face.
"Apa itu puasa...?"
"Ouwhhhhhhkey.. nantilah aku jelasin padamu,"
"Okey...!
Beginilah aku berdialog dengan facebook malam itu.
๐บ๐บ๐บ๐
La la la la la li li li li liiiiiiiii
F_F
"Apa yang anda pikirkan?"
"Aku lagi memikirkan bagaimana solusi buat satu problema yang sangat sulit aku pecahkan ini."
"Terus, kamu mengunjungiku untuk apa?"
"Entah,! Hanya saja aku bahagia bila bercerita padamu."
"Yakin...kamu bisa bahagia, aku ini bukan jenis teman yang bisa merahasiakan setiap curhat orang."
"Entah..! Pikirku kamu bisa menolongku."
"Memangnya apa yang bisa aku tolong?"
"Bantu menyimpan rahasiaku."
"Kan, aku sudah bilang. Aku ini bukan jenis teman yang bisa menyimpan rahasia orang."
Jeda sedetik. beberapa menit kemudian, setelah face memberikan tanggapan, bahwa dia bukan teman yang sentiasa selalu menyimpan rahasia orang, justru ia berterus terang, kalau ia bukan teman yang baik untuk diajak curhat.
"Face...! Aku menyukai seseorang, tapi aku tidak berani mengatakan padanya."
"Sudahlah, jangan bercerita soal perasaan sukamu itu padaku, mulutku ini suka umbar-umbar aib orang."
"Aku tidak bisa menghindar perasaan ini."
"Kok kamu degil sekali, bisa-bisanya kamu tidak mendengar apa yang barusan aku katakan."
"Face...! Kamu boleh diam enggak, dengar saja apa yang aku katakan."
"Ishhhhh, dia yang mengunjungiku, tapi, dia pula yang marah padaku."
"Makanya, kamu mendengar saja apa yang aku ngomong."
"Okey...! Aku mendengar, tapi kamu harus tau, aku ini tidak bisa janji menyimpan rahasiamu, kamu kan tau tugasku apa."
"Iya...! Aku tau... aku tau apa tugasmu, tentu kamu akan menyebarkan keseluruh dunia berita ini, baik atau buruk, hoak, dan segalanya, kamu mengantarkan kejagat raya ini, tetapi mesti harus terhubung dulu denganmu. Kan, begitu."
"Bagus kalau kamu memahamiku."
"Sekarang aku boleh curhat padamu."
"Tentu. Tapi, ada satu permintaanku, mau enggak? Kamu menyejukkan hatiku lebih dulu, kamu mencurhatkan nasehat-nasehat agama, bercerita masalah islami. Jangan terus menceritakan masalah pribadimu, aku bosan mendengarnya, apa lagi sekarang banyak menfitnah sana sini, bergosip masalah yang belum tentu benar."
"Kenapa begitu? Bukankah, kamu sendiri yang mengatakan bahwa tugasmu memang itu, menyebar gosip, menyebar hoak, memfitnah orang."
"Salah...! Orang saja yang tidak begitu memahamiku, sehingga mereka mengunjungiku hanya untuk mengatakan hal-hal keburukan, sekarang aku mau meminta tolong padamu, jadikan aku sebagai sahabat curhat islamimu, jadi dengan begitu, kamu akan mendapat ridha dari Allah, dan aku sebagai penyebarnya, tentu akan sejuk dan damai. Aku sebenarnya sudah muak dengan apa yang terjadi sekarang, dimana-mana mereka mengunjungiku hanya untuk bergosip dan menyebar keburukan orang, ujung-ujungnya saling menyalahi hingga berkelahi. Kini aku berfikir, seandainya aku tutup pintu rumah ini supaya mereka tidak dapat mengunjingiku lagi, bosku akan makan apa? Penghasilan bos hanya disini."
"Face....! Kamu bisa melakukan itu. Sini keluar dulu."
"Sorry, aku enggak bisa keluar, aku cuma bisa menetap pada rumah ini, kamu kan, tau, bos aku seperti apa? Dia senang memanfaatin aku, justru dia gembira dan membangga-bangga kan diri pada dunia, kalau dia salah satu orang tersukses mengakseskan aku pada kalian. Cukuplah! kamu penuhi saja permintaanku yang ini, curhatlah padaku masalah baik-baik, yang membuat aku sejuk dan damai."
"Sebenarnya permintaanmu itu tidak terlalu berat, face. Tapi terkadang aku bingung, harus bagaimana lagi untuk melepaskan unag-unag. Cuma kamu satu-satunya yang bisa aku andalkan."
"Perlu aku bersujud kepadamu, agar kamu mau memenuhinya."
"Eh, jangan...! aku ini bukan Tuhan. Yang patut kamu sujud itu adalah Tuhan (Allah)."
"Maka, sebab itu... jadikan aku sebagai tempat curhatmu tentang Allah, jadikan aku tempat bercerita masalah Agama Allah, berdakwahlah masalah yang bersangkutan dengan dinal islam... mau enggak, aku siap menyebarluaskan cerita kamu itu, asalkan jangan lagi masalah pribadimu, dan masalah lain yang sama sekali tidak bermanfaat."
"Aku malu face...! Kamu sangat berterus terang. Padahal, aku baru memulai untuk curhat itu lagi."
"Jangan lakukan...! Tapi lakukan dakwah yang sesuai permintaanku itu."
"Face...! Aku tau, sangat berat untukmu bekerja seperti itu, memang bos kamu, enggak mencoba untuk memberi batasan akses untukmu, ya contohnya begini: bos kamu membatasi postingan-postingan, mana yang layak kamu sebar dan mana yang tidak layak."
"Entahlah...! Aku tidak tau, soalnya aku hanya ditugaskan untuk menyebar, dan aku juga tidak tau ada berapa orang yang mengakseskan ditempat itu."
"Kamu merasa lelah enggak...!"
"Sangat lelah sebenarnya...! Aku juga sudah tua. pikirku kemarin itu beban ini akan sedikit ringan. karena, sudah ada teman lain yang mengimput dan mau juga bekerja sama untuk menyebar berita, menyebar gosip, hoaks dan Ternyata enggak...! Bosnya sungguh memahaminya, dia ada batasan. Dan batasannya melalui nomor Hp kemudian baru terhubung bila saling menukar nomor, itu pun jika saling mengenal. Nah, kalau aku. Entah dari mana mereka semua terus menerus mengunjingiku dan menaburkan percikkan sampah, entah darimana dikutip lalu melempar pada tubuhku. Begitulah kira-kira."
"Sungguh, aku sangat sedih mendengar keluhanmu, face. Aku juga minta maaf, sering mengunjungimu dengan hal serupa seperti mereka."
"Iya...." terlihat sedih pada wajah face, seakan ia tidak sanggup lagi meneruskan pekerjaan itu, akibat luapnya berita-berita yang tak pernah kunjung kelar.
"Face... curhat kita ini, mari kita sebar ke seluruh dunia, akses kemana yang kamu kehendak, hingga bosmu membacanya dan mau membatasi kerjamu sedikit."
"Iyaa.. aku akan akses postingmu..."
"Tapi.. sekali-sekali.. aku boleh ya kunjungimu untuk melawak sedikit.." hahahahahah
"Ah...!"
"Kamu pasti kesel."
"Kamu sok akrab banget denganku, memangnya kita pernah kenal.."
"Hihihihihi, enggak face...!" Tapi aku akan berusaha mengunjungimu membawa berita islami, namun tidak bisa janji, takut terutang..."๐๐คฃ
"Enggak apa-apa.."๐
"Oh, ya!... kamu ada puasa enggak hari ini...!" Tanyaku pada face.
"Apa itu puasa...?"
"Ouwhhhhhhkey.. nantilah aku jelasin padamu,"
"Okey...!
Beginilah aku berdialog dengan facebook malam itu.
๐บ๐บ๐บ๐
La la la la la li li li li liiiiiiiii
F_F




