Ada dua keinginan:
Pertama, menjadi dokter (terlalu berat) atau perawat, agar bisa membantu orang yang lemah cepat teratasi di hospital. Dulu (umur 12 tahun) baru mulai mempunyai cita-cita, waktu pergi ke rumkit melihat bapak-bapak dan nenek-nenek juga orang yg sakitnya parah menunggu antrian dengan sangat lama, hingga membuat mereka semakin parah penyakit yg di alaminya. Seorang anak, gadis mondar mandir berjalan dari lorong satu kedua merasa iba dan sedih melihat barisan antrian yg sangat lama dan lelet, berkata dalam hati gadis "ketika aku lulus SMA nanti aku ingin jadi dokter, bila kurang biaya, maka aku ingin jadi perawat saja, supaya aku dapat mengutamakan yg lebih parah sakitnya dulu atau yg tua terlebih dahulu, antrian itu tidak benar." Lalu gadis berjalan lagi kedepan untuk melihat-melihat apa yg tidak pernah ia lihat🤣 anak kampung. Sampai pada lorong ketiga ia menyaksikan seorang perawat mengangkat telpon dari seseorang, mungkin itu kerabatnya. Gadis mundur satu langkah dan menempelkan diri pada dinding bagaikan cicak, ia intip sambil mendengar apa yang kakak itu bicara (dasar tukang ngintip🤪). "Kakak udah sampai?" Tanya perawat perempuan itu.
"Jangan mengambil nomor antrian, tunggu saya turun kebawah" lanjut kakak perawat cantik itu lagi.
Gadis kecil imut ini langsung lari, seolah ia tak mendengar obrolan perawat cantik tadi. Rasa penasaran gadis ini mengajaknya untuk mengikuti kakak perawat cantik itu turun kebawah juga untuk melihat berjumpa dengan siapa. Lima anak tangga belum habis diinjak oleh gadis, ia melihat dari jarak jauh bahwa perawat cantik itu menjumpai kakak kandungnya yang kelihatan sehat-sehat saja dan tidak ada tanda-tanda sakit parah. Hanya terlihat ia letih, di tangannya ada sebuah map langsung diberikan kepada adiknya perawat cantik itu. Lalu perawat cantik langsung membawa kedalam ruangan (lupa) dan memberikan pada kakak registrasi supaya cepat dibawa keruangan penyakit yg bersangkutan. Hati gadis mulai berbicara lagi "wahhhhhhh, jadi begitu cara menolong orang, keluarga lebih diutamakan, saya ingin mengubah prosedur itu, bila nanti saya jadi dokter, saya buka map itu lalu saya lihat dan baca mana penyakit yg lebih parah dulu, itu duluan saya panggil."🤣 ngehayal.
Kedua, ingin menjadi hakim. Saat umur 17 tahun gadis imut ini sudah tidak imut lagi, ia mulai terlihat garang, banyak beban yg ia pikul sampai lupa pada cita-cita saat kecil. Ia melihat banyak kasus yg melenceng dari kebenaran. Binatang beruang semakin merajalela menindaskan binatang tak beruang (lebah /lemah). Yg benar disalahkan akibat tak beruang sedangkan bianatang beruang dibenarkan, walau hakikat yg beruanglah melakukan kriminal sampai situ pahamkan. Gadis imut tadi mulai berubah cita-citanya dan ingin menjadi hakim untuk menegakkan kebenaran. Dan mengasah hukum yg tumpul kebawah. Gadis mulai garang, mulai membantah pada setiap apa yg dikatakan oleh teman bila tidak ada bukti. Gadis mulai keras kepala dengan argumennya. Akhirnya ia kuliah mengambil jurusan hukum. Awalnya gadis meminta diri kuliah pada jurusan hukum pidana positif. Keluarganya setuju. Beberapa bulan setelah lulus SMA saat masa libur, ia menyaksikan lagi tetangganya banyak mengalami kasus perceraian, mereka ingin menikah namun tidak ada yg berani ke mahkamah untuk melepaskan diri dan mendapatkan akte perceraian, oleh sebab ditakut-takuti dengan perkataan orang "pergi kemahkamah banyak menghabiskan uang, mungkin puluhan juta."Mereka bukan dari kalangan orang berada, lalu tak ada niat untuk ke mahkamah dan menikah lagi tanpa ada buku nikah. Lahirlah anak tidak tercatat sebagai anak mereka karena tidak ada akte kelahiran. Gadis melihat hal ini terjadi, berubah lagi pikirannya, "tidak...! Ibu, aku ingin kuliah di daerah dekat sini saja, aku ingin mengambil jurusan hukum perdata." Ungkap gadis pada ibunya. Ibu gadis bingung "leklap sekali dirimu, sekali ingin ini, sekali ingin itu, yg benar maunya gimana, atau tidak usah kuliah saja, biar sama seperti kakak-kakakmu." Ujar ibunya yg mulai tidak percaya pada komitmen gadis, dan merasa gadis mau main-main bukan kuliah.
"Ibu...! Aku punya alasan sendiri, kenapa aku memilih kuliah dekat sini, biar bisa makan masakan ibu selalu" jawab gadis dengan sedikit kelawakannya.
"Ibu sudah tidak percaya lagi denganmu!" Tegas ibunya.
Gadis tetap pada pendirian terahir, bahwa ia ingin kuliah mengambil jurusan hukum perdata, karena dalam hukum perdata ada termasuk kasus perceraian.
Setelah isu pendaftaran dibuka, gadis terus-menerus mencari teman yg dapat memberikan informasi mengenai jurusan yg ingin ia pilih itu, beberapa hari berlalu namun tak jua mendapatkan informasi itu. Kemudian gadis memberanikan diri langsung ke kampus yg dimaksudkan untuk menanyakan langsung, ternyata saat itu jurusan yg dimaksudkan itu sudah tergabung kedalam hukum ekonomi syariah.
"Kak, boleh tanya enggak..?"
"Boleh...!"
"Kakak kuliah di sini jurusan apa?" Padahal gadis sudah tau, kakak itu memang jurusan hukum, karena ada sebuah buku yg sedang dipegang tertulis judul hukum positif dalam perpektif islam.
"Jurusan hukum ekonomi syari'ah."
"Dalam jurusan itu apa saja belajarnya kak?" Tanya gadis kembali untuk mengetahui lebih lanjut agar tidak salah pilih jurusan.
"Adek mau kuliah di sini ya, ambil saja jurusan hukum ekonomi, di situ kita belajar sudah termasuk hukum pidana, perdata, dan jinayah, tidak hanya masalah ruang lingkup ekonomi saja (muamalah)," kata salah satu abg ganteng yg kebetulan dia ada di samping sebelah kiri gadis.
"Waaaaaahhhhh sesuai keinginanku ini, paling tidak aku tau dasar-dasarnya sedikit, soal kalanjutan jurusan nanti aku ambil s-2 saja." Kata dalam hati gadis (ngehayal sambil duduk dibawah pohon nangka).
"Kok diam, kalau enggak percaya, adek boleh tanya langsung ke ruangan itu" menunjukkan ruangan perpustakaan🤣.
Pikir gadis dalam hati 'ask the book'
"Perpustakaan...!" Kata gadis dengan kekagetan.
"Iya...! Di situ ada seorang kakak, badan sedikit berisi, tanya langsung kepadanya, nanti akan terjawab semua."
"Oooooh... terima kasih ya...!" Gadis langsung angkat pantat hilang tempat, dan menuju keruangan yg ditunjuk tadi.
Bla...bla.... bla... selesai, sama seperti yg dikatakan abg ganteng. Mendaftarlah pada jurusan itu.
Memang ada dua pilihan, gadis melihat banyak orang lain memberi tanda silang pada pilhan satu terbiyah dan pilihan dua hukum ekonomi syariah disingkat HES, sedangkan gadis, pilihan satu dan dua tetap pada HES. Mereka menertawakan gadis, karena di anggap bodoh sangat tidak membaca dulu langsung mengisi suka hati. Gadis tidak respon pada anggapan mereka, tetap ia pilih dua-duanya itu. Padahal tertulis di ujung formulir boleh pilih dua jurusan mana yg suka, namun lulusnya tetap satu, nah gadis cuma ingin lulus pada jurusan yg tujuannya.
Akhir cerita gadis menjadi seorang sarjana hukum. Dan telah membawa dua orang ke mahkamah untuk mengurus akte perceraian semasa ia praktek tanpa sepengetahuan dosen bimbingannya, dari pengurusan surat keterangan dari geuchik gampong, lalu ke KUA, lengkapi syaratnya langsung kemahkamah untuk mendaftar. Dan alhamdulillah puluhan juta itu berubah menjadi puluhan ratusan, lebih kurang biaya jalan dan uang makan sendiri 1,5jt sudah termasuk saksi. Kalau biaya pendaftaran sidang saat itu +-750.000,- Itu pun tergantung lokasi pengantar surat, bila kelebihan dana akan dikembalikan. Salah satu dari mereka ada yg dikembalikan uang senilai 80.000,-. Siapa yg masih takut ke mahkamah. Jangan takut karena tidak ada pemungutan biaya apa pun, kecuali pembuat proposal seikhlasnya (sebenarnya itu free juga).
Sarannya: ikuti sesuai prosedur, jangan mendaftar melalui orang, karena bila ada perantaraan itu sudah ada cengkoneknya, jadi kalau sudah lengkap syaratnya, datang saja ke mahkamah, masuk melalui pintu depan jangan main belakang ditakuti puluhan juta itu akan benar2 terjadi. Tapi masuklah melalui pintu depan, dekati meja-meja yg dibatasi dengan layar kaca hilang seperempat paruh, dulu tertulis meja I, meja II, disitulah daftar dan ikuti sesuai prosedur yang ada, maka puluhan juta itu tinggallah kata-kata saja, dan hanya puluhan ratus saja, mungkin cuma 10 lmbar uang 100 atau 15 lembar. Silahkan di trey, Gadis sudah pernah melakukannya.





