Pagi yang cerah udara yang sejuk hati yang sedih, pagi ini curi-curi dengar orang bercerita di luar rumah tentang sebuah kisah yang sangat sedih namun sangat inspirasi buat kita sebagai para gadis... langsung saja kita star ceritanya takut nanti lupa... maklum ini kan bulan ramadhan ya ngantuk ada sama penulis, laferr pun ada sama penulis, tau-tau kisah ini berubah jadi bohongan😁😂... tapi ini fakta yaaa... alasannya penulis menuliskan cerita ini dalam blog karena merasa tertarik buat diri penulis juga jadikan inspirasi buat pembaca... wahhh dari tadi bilang star... kok belum ya... sory sory... 😊 okey gays kita langsung saja...
Aku Mars, umurku 15 tahun, aku seorang santri pengajian di sebuah balai pengajian yang letaknya diatas bukit tidak jauh dari desaku, semua gadis-gadis sebaya denganku ngaji disana... perginya dari jam 18.00 malam dan pulang jam 07.00 pagi, orang lebih cendorong menyebut nama balai pengajian itu dengan Dayah Huda (bukan nama asli) yang di pimpin oleh seorang ustaz penceramah yang sangat digemari oleh masyarakat banyak ceramahannya pedas artinya beliau ini memang tepat sasaran atas ceramahnya tidak takut pada siapapun, pemberani, dan sanggup pertanggung jawaban atas apa yang didakwahkannya, nama beliau ustaz Mukhriz (bukan nama alsi).
Aku adalah santriwati dayahnya, pada saat aku mengaji disana aku punya banyak teman hampir seluruh santriwati aku jadikan teman, jumlah santriwati di dayah ini lebih kurang 150, sedangkan santriwan jumlahnya lebih kurang 100, ustaz dan ustazah lebih kurang 15 orang. Kami saat mengaji campuran laki-laki dan perempuan dibatasi dengan tebing kain.
Aku sekolah juga tidak jauh dari desaku, sekolah saat itu masih SMP kelas III. Jujur aku sangat cantik, putih, bersih, lembut, dan banyak lelaki yang menyukaiku bahkan ada yang tergila-gila hingga warasnya hilang, dari kalangan guru disekolah juga dari kalangan dayah para ustaz, namun aku merespon mereka seperti layaknya seorang murid dengan gurunya tidak lebih sama sekali hanya saja mereka menganggap berlebihan sehingga memberikan aku berupa makanan, hadiah lainnya. Beberapa temanku ada yang tidak senang dengan sikapku yang melayani para guru ini baik di dayah maupun disekolah secara lembut, mau temanku aku bersikap tegas agar para guru ini berhenti menyukaiku dan berhenti memperlakukan aku sebagai murid didik yang spesial.
Aku sebenarnya tidak terasa seperti murid spesial tetapi beberapa teman lelaki juga teman perempuan menganggap aku ini murid spesial bagi guru-guru ini (sekolah & dayah) lalu banyak teman yang tidak mau berkawan denganku lagi, mereka pelan-pelan menjauhiku hingga aku tamat SMP.
Setelah masa libur aku kembali masuk kesekolah tingkat SMA/MAN, disekolah ini aku berjumpa lagi dengan teman-teman lamaku di SMP mereka ini mulai akrab kembali denganku, juga ada beberapa teman semasa SMP ada yang satu pengajian denganku tetapi mereka tidak mau berteman denganku disebabkan aku masih diperlakukan oleh guru dayah sebagai santriwati yang spesial padahal biasa saja. Mereka ini mulai menebar fitnah dengan menyampaikan hal-hal yang terjadi di dayah kepada teman lamaku, lalu teman lamaku ini memberikan komentar panas tentang diriku " hei mars kamu masih kek gitu ya,,, tidak hanya disekolah dulu, didayahpun sama! Kegenitan banget sih kamu...!!!" Aku hanya terdiam membisu tidak tau mau jawab apa, memang aku masih sangat polos dan tidak tau apa-apa masalah suka, cinta, spesial, bagiku jika aku diperlakukan khusus ya sudah aku terima saja, itu tidak berpengaruh bagiku. Tetapi teman-temanku sangat berpengaruh sehingga aku di anggap wanita kegatelan sana sini 😟 dan mereka teman lamaku kembali tidak mau berteman lagi denganku, mereka malu berteman dengan orang yang kegenitan.
Lalu aku tetap jalani seperti biasanya pagi sekolah dan malam mengaji, walaupun tanpa seorang teman namun aku tetap tidak goyang, tidak rapuh dan sangat tegar menjalani hidup.
Saat perjalanan yang sunyi aku bertemu dengan seorang lelaki ketika dalam perjalanan mengaji, lelaki itu manis, dia baru pulang dari rantauannya. Berbicara denganku sambil jalan menuju ke dayah ada beberapa santriwati lain melihat aku, lagi-lagi mereka menebarkan fitnah sesamanya termasuk dari kalangan santriwan juga mulai membenciku, pangeran yang berjalan denganku ini setiap hari menunggu aku di kaki bukit untuk menemani aku jalan sampai ke dayah, masa itu belum terlarang sangat bahwa lelaki dengan perempuan tidak boleh berduaan karena belum banyak muncul pikiran kotor dan semua dianggap teman, jadi biasa saja nampaknya.
Terus dan seteruanya pangeran itu menungguku dan aku pun mau jalan dengan dia merasa nyaman dan beda perasaan aku kedia dibanding perasaanku ke guru-guru yang perhatian kepadaku setiap hari baik disekolah maupun didayah. Nama pangeran itu Chardan (bukan nama asli) dia selalu setia temani aku dari pagi kesekolah dan sore ke dayah sehingga dia juga ikut pengajian didayah kami, tetapi dia di kelas paling tertinggi karena umurnya 20 tahun ke atas jadi tidak mungkin duduk dikelas kami yang masih umur rata-rata 18 tahun. Terus dan terus kami berkenalan disepanjang jalan😁 tiba-tiba ia berminat untuk memperistrikan aku, Alhamdulillah hatiku sangat gembira dan sangat bahagia karena akan segera fitnah-fitnah yang menyebar keseluruh desa akan punah begitu anggapanku. Tidak tau bahwa keluarga aku dan dia tidak menyetujuinya, alasannya pertama dari keluarga pangeranku ini beranggapan bahwa aku ini wanita penjinak lelaki akibat fitnah yang tersebar itu membuat keluarganya tidak menyukaiku walaupun aku cantik, putih, lembut mereka tetap tidak menerimaku, itu kata-kata yang dilempari pada setiap orang didesaku kami satu desa, lalu terdengarlah ketelingaku ibuku dan ayahku aku sangat disayangi oleh ibu dan ayahku, ibuku membalas lemparan kata-kata juga, kata ibuku aku juga tidak sudi memberikan anakku kepada keluargamu, anakmu yang kegatelan selalu ngejar-ngejar anakku dijalan bagaikan anjing kejar tulang... akhirnya keluargaku dengan keluarga dia setiap jumpa selalu berantem masing-masing menangkan anak sendiri, kami berdua tidak bisa melanjutin hasrat hati kami, tetapi kami tetap meneruskan hubungan ini hingga kedua keluarga kami damai dan memberika restu kepada kami.
Tak terhitung hari lagi keluargaku dengan keluarga dia masih juga belum damai hingga aku tidak kuat untuk menghadapi ini aku ingin pergi ke pesantren besar untuk menjauhi diri dari fitnah yang menyebar didesaku tentang kejelekanku... aku sangat sedih kedua orang tuaku dipandang jelek oleh masyarakat karena diriku, aku punya 2 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan, kakakku juga mulai tidak menyukaiku, mulai membenci punya adik yang sangat buruk, dan mulai mengatakan hal yang jelek tentang diriku, hanya tersisa ibu dan ayah saja yang masih percaya dan menyayangiku, lalu aku meminta restu pada orang tuaku untuk pergi pesantren, kedua orang tuaku merestuinya dan aku tinggal dipesantren... pangeranku ini masih belum menyerah dan masih punya minat besar untuk memperistrikan aku, dia pergi kerantauan lagi dan mulai mengirimi aku segala kebutuhan aku didayah dan karena aku sangat mencintainya akupun terima apa yang diberikan olehnya, aku sangat bahagia sungguh dialah sosok idamanku yang selama ini aku tunggu. Sekolah ku berhenti di kelas II SMA/ MAN karena telah masuk pesantren, pangeranku ini meminta aku masuk sekolah dipesantren yang aku tempati itu dan segala biayanya akan di tanggungi, namun aku tolak karena aku ingin fokus pada pengajian saja biar aku lebih kejalan akhirat, aku ingin lupa tentang duniaku yang jelek itu.
Dua tahun lamanya aku di pesantren lalu aku pulang kekampung halamanku untuk berlibur beberapa hari dan juga aku pergi ketempat kakak jauh sekali dari kampung halamanku perjalanan menuju kesana lebih kurang 8 jam perjalanan dengan kendaraan mobil. Aku disana hanya main-main saja, disana juga ada ayah yang sedang cari rezeki untuk nafkahi kami dikmpung, aku anak yang paling dimanjai dan disayangi oleh ayah, kalau kakak juga disayangi oleh ayah tetapi tidak dimanjai lagi sebab sudah berkeluarga, suami kakak kerja sama ayah juga ada abgku disana bekerja. Ayah menuruti semua kemauanku, apa-apa yang aku minta semuanya terpenuhi kakak cemburu terhadap diriku. Ketika disana aku nginap dirumah kakak karena toko/kede yang ayah berjual dinginapi sama ayah dan abang. Hari-hari disana aku sering keluar jalan-jalan sendirian kelilingi kota tersebut dengan kendaraan motor ayah, kakak kurang senang dengan kehadiranku disana, suami kakak juga kurang senang mereka merasa diriku banyak membawa aib dalam keluarga, lalu kakak menegurku untuk tidak sering keluar jalan-jalan sebaiknya aku pulang kekampung saja, disana boleh pergi kemana saja kata kakak. Memang semasa aku dirauntauan itu beberapa lelaki disana yang melihatku tertarik bahkan minta kenalan denganku melalui kakak, kakak merasah risih dengan permintaan konyol para lelaki disana, merasa kurang senang, malu punya adik yang dikenal pejinak lelaki, padahal lelaki itu sendiri yang menginginkan aku.
Aku sempat melayani salah satu lelaki yang meminta kenalan denganku dengan memenuhi permintaannya untuk pergi makan bakso, kebetulan silaki itu berjualan disamping toko ayah setiap hari lihat aku ditoko ayah selalu ngajak aku makan bakso. Kejadian itu pas malam hari niat dan tujuanku untuk penuhi keinginannya supaya berhenti menggangguku baik didepan kakak maupun abangku, lalu aku pergi temuinya disebuah cafe lengkap dengan makanan serta ada bakso juga dicafe itu, kami duduk disana makan bakso bersama tanpa diketahui oleh ayah dan abangku. Ketika kakak jemput suaminya pulang kerja melihat aku duduk bersama lelaki yang sering mengganggu kakak untuk minta kenalan denganku. Kakak marah sekali jiga abg iparku sangat kesel dan marah, tanpa mereka samperin kami langsung pulang kerumah, sesampai dirumah didepan pintu langsung aku ditamparin oleh kakak dan berkata "kamu memang genit dari kampung bawa-bawa kesini, aku malu punya adik yang kegatelan dan pejinak laki, sebaiknya kamu tidak perlu tinggal dirumahku lagi pulang saja kekampung, besok tolong siap-siap pulang kekampung aku akan antarin ke bus". Abg iparku tertawa dengan senang hati aku ditamparin oleh istrinya, namun aku hanya menangis tidak memberi penjelasan apa-apa tentang niat dan tujuanku untuk menemui silaki itu.
Esok harinya aku diantarin oleh kakak ke bus ayah dan abangku tidak mengetahuinya, lalu sore hari ayah tanya sama suami kakak "mars kok tidak nampak hari ini, biasanya setiap pagi sudah sampai kesini untuk tolong ayah nyapu,? Suami kakak "sebaiknya ayah nanti malam pulang kerumah saja makan malam bersama, dan ayah boleh tanya langsung sama kakak mars soal marsa". Ayah diam tidak lanjut bertanya lagi mungki sebab ayah tau bahwa kakak dan suaminya mersa cemburu atas perlakuan ayah yang selalu penuhi keinginanku.
Malam harinya ayah dengan abang pulang kerumah kakak untuk makan malam bersama, seusai makan malam langsung ayah tanyakan tentang diriku pada kakak,
"Akak mars kemana, kenapa tidak datang ketoko hari ini, biasanya pagi-pagi buta sudah ada dia, ni dirumah akak juga tidak ada, kemana dia"! Kenapa ayah panggil akak sebab kakaku adalah anak pertama dari keluargaku, yang kedua abang bersama ayah, yang ketiga abang dikampung dan ke empat diriku. Kakak jawab "ayah harus tau perbuatan dia disini, setiap hari seusai bersih-bersih toko dia jalan-jalan dengan lelaki disini, namanya andi (bukan nama asli) yang sering tanyakan dia sama saya, yang berjualan disamping ayah itu... kemarin malam mereka duduk disebuah cafe sedang berdua-duaan didepan umum, akak malu ayah.... punya adik seperti itu, kata kawan akak setiap malam merek jumpa dan berdua-duaan dalam kegelapan... " tanya abang " kak..! Apa betul ni yang akak bilang?, dia mulai bawa-bawa sikap dikampung kemari, sudah 2 tahun duduk di dayah masih sama kelakuannya... memalukan sekali.." nyambung kakak lagi "sempat dengar dari mulut orang dia pernah kehotel dengan seorang lelaki entah akak tidak tau dengan laki mana lagi dia.." dan seterusnya pernyataan yang tidak aku lakukan dilaporin ke ayah dan abangku. Ayah tidak menjawab apa-apa, tetapi abang sangat marah dan menelepon kekampung untuk kasih tau sama ibu soal laporan dari akak, lalu ibu tanyakan langsung soal apa yang kakak bilang itu, aku kaget dan terkejut mendengar isi laporan itu, aku menangis dan selalu jawab bahwa aku tidak seperti itu dan tidak melakukan hal itu, ibu sangat benci terhadap diriku😢 sangat jijik melihatku😢 menganggap bahwa aku tidak suci lagi, menganggap aku bukan anaknya😢 apa yang aku sentuh dirumah ibu buang, kata ibu jijik barang sentuhanku, kotor, tidak suci, sekalipun aku berusaha menjelaskannya ibu sudah tak mau mendengarku lagi, sepertinya telinga ibu sudah peka dengan suaraku, tak ada satu keluargaku yang berpihak pada diriku kecuali ayah yang msih sangat sayang dan percaya samaku.
Abang yang dikampung ketika dengar tentang diriku marah sekali, aku ditampar dan ditendang dengan kaki pas kenak didada, ibu hanya melihat saja aku dipukuli oleh abang yang dirumah😢😭 tidak ada pembelaan dari ibu sama sekali.
Lalu ayah, abang, kakak juga suaminya semua pulang kekampung untuk jumpai diriku, masih mau menginterview tentang hal kejadian disana, jawabanku tetap tidak pernah melakukan hal yang hina dan keji seperti itu, kakak marahin aku dan kembali menamparinku didepan ayah, ayah berkata dengan sangat marah "berhenti memukulinya...!" Hatiku ketika ayah berkata demikian sangat bahagia dan gembira karena masih ada yang mendukungku dan pedulikanku.
Ayah bertanya padaku... "nak, jawab jujur apa pernah melakukan hal seperti itu disana? Jawabku "tidak ayah...! Aku tidak pernah melakukan hal itu, tidak pernah ayah'😢😭 sambil aku bersujud dikaki ayah, tolong percayalah ayah...!" Ayahku tidak jawab apa-apa lagi setelah dengar jawabanku.
Setelah dicek hasilnya terbukti aku masih perawan dan tidak ada yang menyentuh diriku sama sekali, memang kenyataannya bahwa diriku masih suci, dan tidak pernah melakukan hal-hal sekeji itu... kemudian keluargaku mulai merasa malu pertama dari kakakku yang berusaha telah memfitnah saudara kandungnya sendiri, ibu mulai tidak berani tatapan dengan diriku sebab sudah terlalu banyak kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya, kedua abangku respon biasa saja, abang yang memukuliku sudah jarang pulang kerumah, hanya ayah yang sering berbicara denganku, tetangga dan semua orang didesaku masih memandang hina pada diriku, lagi-lagi keluarga pangeranku mereka semakin jijik dengan diriku bahkan langsung melaporkan pada anaknya tentang kejadian ini, tetapi aku bangga sama dia tidak menyesal memilih dia sebagai pangeranku, dia tetap mencintaiku, masih punya keinginan untuk memperistrikanku, dia tidak percaya kata siapapun karena dia tau banyak wanita disekelilingku yang iri dan sirik pada diriku yang sangat cantik wajahku dan akhlakku.
Aku Mars, umurku 15 tahun, aku seorang santri pengajian di sebuah balai pengajian yang letaknya diatas bukit tidak jauh dari desaku, semua gadis-gadis sebaya denganku ngaji disana... perginya dari jam 18.00 malam dan pulang jam 07.00 pagi, orang lebih cendorong menyebut nama balai pengajian itu dengan Dayah Huda (bukan nama asli) yang di pimpin oleh seorang ustaz penceramah yang sangat digemari oleh masyarakat banyak ceramahannya pedas artinya beliau ini memang tepat sasaran atas ceramahnya tidak takut pada siapapun, pemberani, dan sanggup pertanggung jawaban atas apa yang didakwahkannya, nama beliau ustaz Mukhriz (bukan nama alsi).
Aku adalah santriwati dayahnya, pada saat aku mengaji disana aku punya banyak teman hampir seluruh santriwati aku jadikan teman, jumlah santriwati di dayah ini lebih kurang 150, sedangkan santriwan jumlahnya lebih kurang 100, ustaz dan ustazah lebih kurang 15 orang. Kami saat mengaji campuran laki-laki dan perempuan dibatasi dengan tebing kain.
Aku sekolah juga tidak jauh dari desaku, sekolah saat itu masih SMP kelas III. Jujur aku sangat cantik, putih, bersih, lembut, dan banyak lelaki yang menyukaiku bahkan ada yang tergila-gila hingga warasnya hilang, dari kalangan guru disekolah juga dari kalangan dayah para ustaz, namun aku merespon mereka seperti layaknya seorang murid dengan gurunya tidak lebih sama sekali hanya saja mereka menganggap berlebihan sehingga memberikan aku berupa makanan, hadiah lainnya. Beberapa temanku ada yang tidak senang dengan sikapku yang melayani para guru ini baik di dayah maupun disekolah secara lembut, mau temanku aku bersikap tegas agar para guru ini berhenti menyukaiku dan berhenti memperlakukan aku sebagai murid didik yang spesial.
Aku sebenarnya tidak terasa seperti murid spesial tetapi beberapa teman lelaki juga teman perempuan menganggap aku ini murid spesial bagi guru-guru ini (sekolah & dayah) lalu banyak teman yang tidak mau berkawan denganku lagi, mereka pelan-pelan menjauhiku hingga aku tamat SMP.
Setelah masa libur aku kembali masuk kesekolah tingkat SMA/MAN, disekolah ini aku berjumpa lagi dengan teman-teman lamaku di SMP mereka ini mulai akrab kembali denganku, juga ada beberapa teman semasa SMP ada yang satu pengajian denganku tetapi mereka tidak mau berteman denganku disebabkan aku masih diperlakukan oleh guru dayah sebagai santriwati yang spesial padahal biasa saja. Mereka ini mulai menebar fitnah dengan menyampaikan hal-hal yang terjadi di dayah kepada teman lamaku, lalu teman lamaku ini memberikan komentar panas tentang diriku " hei mars kamu masih kek gitu ya,,, tidak hanya disekolah dulu, didayahpun sama! Kegenitan banget sih kamu...!!!" Aku hanya terdiam membisu tidak tau mau jawab apa, memang aku masih sangat polos dan tidak tau apa-apa masalah suka, cinta, spesial, bagiku jika aku diperlakukan khusus ya sudah aku terima saja, itu tidak berpengaruh bagiku. Tetapi teman-temanku sangat berpengaruh sehingga aku di anggap wanita kegatelan sana sini 😟 dan mereka teman lamaku kembali tidak mau berteman lagi denganku, mereka malu berteman dengan orang yang kegenitan.
Lalu aku tetap jalani seperti biasanya pagi sekolah dan malam mengaji, walaupun tanpa seorang teman namun aku tetap tidak goyang, tidak rapuh dan sangat tegar menjalani hidup.
Saat perjalanan yang sunyi aku bertemu dengan seorang lelaki ketika dalam perjalanan mengaji, lelaki itu manis, dia baru pulang dari rantauannya. Berbicara denganku sambil jalan menuju ke dayah ada beberapa santriwati lain melihat aku, lagi-lagi mereka menebarkan fitnah sesamanya termasuk dari kalangan santriwan juga mulai membenciku, pangeran yang berjalan denganku ini setiap hari menunggu aku di kaki bukit untuk menemani aku jalan sampai ke dayah, masa itu belum terlarang sangat bahwa lelaki dengan perempuan tidak boleh berduaan karena belum banyak muncul pikiran kotor dan semua dianggap teman, jadi biasa saja nampaknya.
Terus dan seteruanya pangeran itu menungguku dan aku pun mau jalan dengan dia merasa nyaman dan beda perasaan aku kedia dibanding perasaanku ke guru-guru yang perhatian kepadaku setiap hari baik disekolah maupun didayah. Nama pangeran itu Chardan (bukan nama asli) dia selalu setia temani aku dari pagi kesekolah dan sore ke dayah sehingga dia juga ikut pengajian didayah kami, tetapi dia di kelas paling tertinggi karena umurnya 20 tahun ke atas jadi tidak mungkin duduk dikelas kami yang masih umur rata-rata 18 tahun. Terus dan terus kami berkenalan disepanjang jalan😁 tiba-tiba ia berminat untuk memperistrikan aku, Alhamdulillah hatiku sangat gembira dan sangat bahagia karena akan segera fitnah-fitnah yang menyebar keseluruh desa akan punah begitu anggapanku. Tidak tau bahwa keluarga aku dan dia tidak menyetujuinya, alasannya pertama dari keluarga pangeranku ini beranggapan bahwa aku ini wanita penjinak lelaki akibat fitnah yang tersebar itu membuat keluarganya tidak menyukaiku walaupun aku cantik, putih, lembut mereka tetap tidak menerimaku, itu kata-kata yang dilempari pada setiap orang didesaku kami satu desa, lalu terdengarlah ketelingaku ibuku dan ayahku aku sangat disayangi oleh ibu dan ayahku, ibuku membalas lemparan kata-kata juga, kata ibuku aku juga tidak sudi memberikan anakku kepada keluargamu, anakmu yang kegatelan selalu ngejar-ngejar anakku dijalan bagaikan anjing kejar tulang... akhirnya keluargaku dengan keluarga dia setiap jumpa selalu berantem masing-masing menangkan anak sendiri, kami berdua tidak bisa melanjutin hasrat hati kami, tetapi kami tetap meneruskan hubungan ini hingga kedua keluarga kami damai dan memberika restu kepada kami.
Tak terhitung hari lagi keluargaku dengan keluarga dia masih juga belum damai hingga aku tidak kuat untuk menghadapi ini aku ingin pergi ke pesantren besar untuk menjauhi diri dari fitnah yang menyebar didesaku tentang kejelekanku... aku sangat sedih kedua orang tuaku dipandang jelek oleh masyarakat karena diriku, aku punya 2 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan, kakakku juga mulai tidak menyukaiku, mulai membenci punya adik yang sangat buruk, dan mulai mengatakan hal yang jelek tentang diriku, hanya tersisa ibu dan ayah saja yang masih percaya dan menyayangiku, lalu aku meminta restu pada orang tuaku untuk pergi pesantren, kedua orang tuaku merestuinya dan aku tinggal dipesantren... pangeranku ini masih belum menyerah dan masih punya minat besar untuk memperistrikan aku, dia pergi kerantauan lagi dan mulai mengirimi aku segala kebutuhan aku didayah dan karena aku sangat mencintainya akupun terima apa yang diberikan olehnya, aku sangat bahagia sungguh dialah sosok idamanku yang selama ini aku tunggu. Sekolah ku berhenti di kelas II SMA/ MAN karena telah masuk pesantren, pangeranku ini meminta aku masuk sekolah dipesantren yang aku tempati itu dan segala biayanya akan di tanggungi, namun aku tolak karena aku ingin fokus pada pengajian saja biar aku lebih kejalan akhirat, aku ingin lupa tentang duniaku yang jelek itu.
Dua tahun lamanya aku di pesantren lalu aku pulang kekampung halamanku untuk berlibur beberapa hari dan juga aku pergi ketempat kakak jauh sekali dari kampung halamanku perjalanan menuju kesana lebih kurang 8 jam perjalanan dengan kendaraan mobil. Aku disana hanya main-main saja, disana juga ada ayah yang sedang cari rezeki untuk nafkahi kami dikmpung, aku anak yang paling dimanjai dan disayangi oleh ayah, kalau kakak juga disayangi oleh ayah tetapi tidak dimanjai lagi sebab sudah berkeluarga, suami kakak kerja sama ayah juga ada abgku disana bekerja. Ayah menuruti semua kemauanku, apa-apa yang aku minta semuanya terpenuhi kakak cemburu terhadap diriku. Ketika disana aku nginap dirumah kakak karena toko/kede yang ayah berjual dinginapi sama ayah dan abang. Hari-hari disana aku sering keluar jalan-jalan sendirian kelilingi kota tersebut dengan kendaraan motor ayah, kakak kurang senang dengan kehadiranku disana, suami kakak juga kurang senang mereka merasa diriku banyak membawa aib dalam keluarga, lalu kakak menegurku untuk tidak sering keluar jalan-jalan sebaiknya aku pulang kekampung saja, disana boleh pergi kemana saja kata kakak. Memang semasa aku dirauntauan itu beberapa lelaki disana yang melihatku tertarik bahkan minta kenalan denganku melalui kakak, kakak merasah risih dengan permintaan konyol para lelaki disana, merasa kurang senang, malu punya adik yang dikenal pejinak lelaki, padahal lelaki itu sendiri yang menginginkan aku.
Aku sempat melayani salah satu lelaki yang meminta kenalan denganku dengan memenuhi permintaannya untuk pergi makan bakso, kebetulan silaki itu berjualan disamping toko ayah setiap hari lihat aku ditoko ayah selalu ngajak aku makan bakso. Kejadian itu pas malam hari niat dan tujuanku untuk penuhi keinginannya supaya berhenti menggangguku baik didepan kakak maupun abangku, lalu aku pergi temuinya disebuah cafe lengkap dengan makanan serta ada bakso juga dicafe itu, kami duduk disana makan bakso bersama tanpa diketahui oleh ayah dan abangku. Ketika kakak jemput suaminya pulang kerja melihat aku duduk bersama lelaki yang sering mengganggu kakak untuk minta kenalan denganku. Kakak marah sekali jiga abg iparku sangat kesel dan marah, tanpa mereka samperin kami langsung pulang kerumah, sesampai dirumah didepan pintu langsung aku ditamparin oleh kakak dan berkata "kamu memang genit dari kampung bawa-bawa kesini, aku malu punya adik yang kegatelan dan pejinak laki, sebaiknya kamu tidak perlu tinggal dirumahku lagi pulang saja kekampung, besok tolong siap-siap pulang kekampung aku akan antarin ke bus". Abg iparku tertawa dengan senang hati aku ditamparin oleh istrinya, namun aku hanya menangis tidak memberi penjelasan apa-apa tentang niat dan tujuanku untuk menemui silaki itu.
Esok harinya aku diantarin oleh kakak ke bus ayah dan abangku tidak mengetahuinya, lalu sore hari ayah tanya sama suami kakak "mars kok tidak nampak hari ini, biasanya setiap pagi sudah sampai kesini untuk tolong ayah nyapu,? Suami kakak "sebaiknya ayah nanti malam pulang kerumah saja makan malam bersama, dan ayah boleh tanya langsung sama kakak mars soal marsa". Ayah diam tidak lanjut bertanya lagi mungki sebab ayah tau bahwa kakak dan suaminya mersa cemburu atas perlakuan ayah yang selalu penuhi keinginanku.
Malam harinya ayah dengan abang pulang kerumah kakak untuk makan malam bersama, seusai makan malam langsung ayah tanyakan tentang diriku pada kakak,
"Akak mars kemana, kenapa tidak datang ketoko hari ini, biasanya pagi-pagi buta sudah ada dia, ni dirumah akak juga tidak ada, kemana dia"! Kenapa ayah panggil akak sebab kakaku adalah anak pertama dari keluargaku, yang kedua abang bersama ayah, yang ketiga abang dikampung dan ke empat diriku. Kakak jawab "ayah harus tau perbuatan dia disini, setiap hari seusai bersih-bersih toko dia jalan-jalan dengan lelaki disini, namanya andi (bukan nama asli) yang sering tanyakan dia sama saya, yang berjualan disamping ayah itu... kemarin malam mereka duduk disebuah cafe sedang berdua-duaan didepan umum, akak malu ayah.... punya adik seperti itu, kata kawan akak setiap malam merek jumpa dan berdua-duaan dalam kegelapan... " tanya abang " kak..! Apa betul ni yang akak bilang?, dia mulai bawa-bawa sikap dikampung kemari, sudah 2 tahun duduk di dayah masih sama kelakuannya... memalukan sekali.." nyambung kakak lagi "sempat dengar dari mulut orang dia pernah kehotel dengan seorang lelaki entah akak tidak tau dengan laki mana lagi dia.." dan seterusnya pernyataan yang tidak aku lakukan dilaporin ke ayah dan abangku. Ayah tidak menjawab apa-apa, tetapi abang sangat marah dan menelepon kekampung untuk kasih tau sama ibu soal laporan dari akak, lalu ibu tanyakan langsung soal apa yang kakak bilang itu, aku kaget dan terkejut mendengar isi laporan itu, aku menangis dan selalu jawab bahwa aku tidak seperti itu dan tidak melakukan hal itu, ibu sangat benci terhadap diriku😢 sangat jijik melihatku😢 menganggap bahwa aku tidak suci lagi, menganggap aku bukan anaknya😢 apa yang aku sentuh dirumah ibu buang, kata ibu jijik barang sentuhanku, kotor, tidak suci, sekalipun aku berusaha menjelaskannya ibu sudah tak mau mendengarku lagi, sepertinya telinga ibu sudah peka dengan suaraku, tak ada satu keluargaku yang berpihak pada diriku kecuali ayah yang msih sangat sayang dan percaya samaku.
Abang yang dikampung ketika dengar tentang diriku marah sekali, aku ditampar dan ditendang dengan kaki pas kenak didada, ibu hanya melihat saja aku dipukuli oleh abang yang dirumah😢😭 tidak ada pembelaan dari ibu sama sekali.
Lalu ayah, abang, kakak juga suaminya semua pulang kekampung untuk jumpai diriku, masih mau menginterview tentang hal kejadian disana, jawabanku tetap tidak pernah melakukan hal yang hina dan keji seperti itu, kakak marahin aku dan kembali menamparinku didepan ayah, ayah berkata dengan sangat marah "berhenti memukulinya...!" Hatiku ketika ayah berkata demikian sangat bahagia dan gembira karena masih ada yang mendukungku dan pedulikanku.
Ayah bertanya padaku... "nak, jawab jujur apa pernah melakukan hal seperti itu disana? Jawabku "tidak ayah...! Aku tidak pernah melakukan hal itu, tidak pernah ayah'😢😭 sambil aku bersujud dikaki ayah, tolong percayalah ayah...!" Ayahku tidak jawab apa-apa lagi setelah dengar jawabanku.
Sebelum pulang kesini ayah sudah temui lelaki yang berjualan disamping toko ayah untuk menanyakan langsung persoalan ini, lelaki itu sudah memberikan penjelasan semua sebab itulah ayah tidak terlalu memperumitkan masalah ini.
Lalu kedua abangku meminta diriku untuk cek keperawananku masih ada atau tidak, aku dibawa kedokter kandungan untuk cek apakah masih ada atau tidak, jika terbukti tidak ada lagi aku diusir dari rumah dan dihapus namaku dari ahli waris keluarga...Setelah dicek hasilnya terbukti aku masih perawan dan tidak ada yang menyentuh diriku sama sekali, memang kenyataannya bahwa diriku masih suci, dan tidak pernah melakukan hal-hal sekeji itu... kemudian keluargaku mulai merasa malu pertama dari kakakku yang berusaha telah memfitnah saudara kandungnya sendiri, ibu mulai tidak berani tatapan dengan diriku sebab sudah terlalu banyak kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya, kedua abangku respon biasa saja, abang yang memukuliku sudah jarang pulang kerumah, hanya ayah yang sering berbicara denganku, tetangga dan semua orang didesaku masih memandang hina pada diriku, lagi-lagi keluarga pangeranku mereka semakin jijik dengan diriku bahkan langsung melaporkan pada anaknya tentang kejadian ini, tetapi aku bangga sama dia tidak menyesal memilih dia sebagai pangeranku, dia tetap mencintaiku, masih punya keinginan untuk memperistrikanku, dia tidak percaya kata siapapun karena dia tau banyak wanita disekelilingku yang iri dan sirik pada diriku yang sangat cantik wajahku dan akhlakku.
Keluarga pangeranku ingin memperjodohkannya dengan wanita lain, namun pangeranku menolaknya dan tidak akan pernah menikah dengan siapapun kecuali dengan diriku. Lalu ada beberap laki-laki lain dikampung halamanku yang ingin meperistrikanku walaupun aku sudah tercemar hina di masyarakat, banyak yang berlomba-lomba untuk mendapatkanku. Aku tidak memberi jawaban apa-apa dan hanya menunggu sipangeranku yang itu (Chardan). Umurku pada saat itu sudah mencapai 20 tahun, kata ayah aku sudah pantas memiliki suami agar pemuda-pemuda lain berhenti melirik aku dan tercegah dari timbul fitnah, aku tidak jawab apa-apa,. Setelah kejadian ini terselesai banyak pemuda datang kerumah untuk melamariku, ayah hanya menunggu keputusan dariku, sedangkan ibu takut berbicara denganku walaupun dari beberapa pemuda yang melamarkanku ada yang ibu sukai dan berkenang dihati ibu.
Lalu aku kembali kedayah, dan pangeranku sangat senang mendengarkan bahwa aku kembali kedayah tanpa menerima lamaran siapapun, dia kembali mengirimiku segala kebutuhan apa-apa yang aku perlu di dayah, dari beli kitab, uang jajan, pakaian, segalanya yang kubutuhkan. Beberapa bulan di dayah aku merasa sesak nafas di dada aku cek up kerumah sakit, didadaku ada sesuatu yang terdempet dan susah untuk bernafas, lupa tidak tau nama penyakit itu efeknya sebab tendangan dari abangku saat itu. Aku tidak pernah kasih tau pada siapapun soal penyakit yang kualami itu, hingga berjalan waktu demi waktu, hari, bulan dan seterusnya pernafasanku mulai ketat, mulai sulit untuk bernafas, ditambah lagi dengan demam badanku sangat tinggi,, temanku yang sekamar meminta bawakan aku kerumah sakit, aku menolak dan berkata baik-baik saja, padahal diriku sangat sekarat.
Tiga malam aku tertidur dikamar tanpa mengikuti pengajian, subuhnya tepat pada jam 06.09 dalam keadaan tertidur aku telah meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan tersenyum.🙁
Teman-teman membangungkan diriku, dan tidak terbangun kini aku telah tidur panjang untuk selama-lamanya. Orang-orang yang selama ini iri, dendam, mengatakan diriku yang bukan-bukan, fitnah diriku, saat aku telah tiada mereka meminta maaf dengan menangis disamping jasadku, merasa menyesal telah membuat aku hina di mata masyarakat. Namun aku telah memaafkan mereka semua aku ingin berkata berhenti menangis, berhenti jatuhkan aer mata kalian, sekalipun kalian menangis aku telah tiada dan aku tidak akan pernah kembali.
Orang-orang desaku dengan segera mempersiapkan kebutuhan terahirku yaitu kerenda, kain kafan, kuburan, dan segera memandikanku setelah sampai aku dipulangkan dari dayah, segala aktifitas dari buat kerenda, menggali kubur sampai aku disemayamkan semuanya teras ringan dilaksanakan oleh masyrakat kampung. saat itu ibuku pingsan setiap saat karena sangat menyesal dan sungguh menyesal telah mendengar fitnah dan hasutan konyol dari kakakku kandungku sendiri tidak sempat meminta maaf pada diriku, aku mendengar semua tangisan mereka saat aku telah tiada namun aku tidak bisa menjawab, tidak bisa berbicara, aku hanya terdampar tidur dihadapan mereka semua, yang sayang padaku dengan air mata berlinang baca yasin dihadapanku, kakakku saat itu juga sangat menyesal telah memperlakukan adik perempuan satu-satunya seperti orang lain semacam bukan adik kandung sendiri, di hari terahirku bersama mereka hampir sekampung mengeluarkan air matanya.
Pangeranku dari rantauan langsung pulang untuk berjumpa terahir kalinya dan alhamdulillah keluarga pangeranku damai dengan keluargaku disaat aku telah tiada dan dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepada keluargaku atas apa yang pernah dikatain tentang kehinaan keluargaku juga tentang diriku, keluarga pangeranku meminta jangan dulu aku disemanyamkan kekubur tunggu anaknya beberapa menit lagi sampai karena sedang dalam perjalanan pulang, karena sudah damai akhirnya keluargaku memutuskan untuk menunggu pangeranku pulang.
Setelah pangeran pulang dilarang untuk menyetuh jasadku sebab diriku sudah suci, pangeranku menangis dengan tangisan yang dalam sambil berbisik "maafkan aku, maafkan aku, juga maafkan keluargaku, aku telah rela kamu pergi dengan tenang semoga Allah menempatkanmu dijannah😢😢,." Dia pingsan saat aku diangkat akan dibawa kekubur, hampir semua desa dikecamatanku mengantarin kepulanganku keilahi dengan wajah yang sedih dan duka yang dalam. Selamat tinggal dunia dan selamat tinggal kampung halamanku juga selamat tinggal pangeranku... relakan aku pergi supaya tidak ada hambatan apa-apa dengan dunia lagi😢😢.
Ini merupakan sebuah kisah nyata 10 tahun lalu, sumbernya dari tetangga sebelah dan ada beberapa orang lain juga pernah mengatakan cerita yang sama...
Penulis mengangkat kisah ini bukan sebab membuka aib atau hal semcam lain... hanya saja ini sebagai pertimbangan bagi orang yang suka sirik dan iri dengki, juga sebagai inspirasi buat kita semua bahwa hidup ini tidak dengan apa yang terlihat maka akan seperti itu, istilah tepatnya hina dimata manusia belum tentu hina di mata Allah, begitupun sebaliknya, karena kita tidak tau dari sebalik ujian dan cobaan yang dihadapi ada sirat tersendiri didalamnya, menurut penulis ketika kejadian ini, penulis masih menduduki bangku SD, dan kisah ini memang benar-benar ada, kenapa penulis menyebutkan kata aku dalam cerita ini kenapa tidak langsung sebut namanya, seolah-olah ini seperti hayalan... tidak...! Ini benar-benar nyata, karena kalau sebut semua nama-nama mereka dikhawatirkan ada nama yang sama (asli), sebagian yang mengetahui alur cerita ini akan merasa risih dan bertanya-tanya siapa pembuatnya walupun diketahui orangnya, karena menurut penulis cerita ini singkat padat jelas, kalau diuraikan akan lebih banyak lagi, penulis yakin ini saja tidak habis dibaca😂😂.
Nama-nama yang tersebut didalam cerita ini bukan nama yang sesungguhnya, harap bila ada kesamaan namanya dimaklumi karena bukan disengaja.
Bila best ceritanya harap komentar dibawah, bila kurang dalam bahasa dapat dimaklumi masih pemula dalam menulis kisah orang😊.
🖎Bila ada masukan dan kritikan juga saran silahkan diisi dikolom bawah ini👇
Ini merupakan sebuah kisah nyata 10 tahun lalu, sumbernya dari tetangga sebelah dan ada beberapa orang lain juga pernah mengatakan cerita yang sama...
Penulis mengangkat kisah ini bukan sebab membuka aib atau hal semcam lain... hanya saja ini sebagai pertimbangan bagi orang yang suka sirik dan iri dengki, juga sebagai inspirasi buat kita semua bahwa hidup ini tidak dengan apa yang terlihat maka akan seperti itu, istilah tepatnya hina dimata manusia belum tentu hina di mata Allah, begitupun sebaliknya, karena kita tidak tau dari sebalik ujian dan cobaan yang dihadapi ada sirat tersendiri didalamnya, menurut penulis ketika kejadian ini, penulis masih menduduki bangku SD, dan kisah ini memang benar-benar ada, kenapa penulis menyebutkan kata aku dalam cerita ini kenapa tidak langsung sebut namanya, seolah-olah ini seperti hayalan... tidak...! Ini benar-benar nyata, karena kalau sebut semua nama-nama mereka dikhawatirkan ada nama yang sama (asli), sebagian yang mengetahui alur cerita ini akan merasa risih dan bertanya-tanya siapa pembuatnya walupun diketahui orangnya, karena menurut penulis cerita ini singkat padat jelas, kalau diuraikan akan lebih banyak lagi, penulis yakin ini saja tidak habis dibaca😂😂.
Nama-nama yang tersebut didalam cerita ini bukan nama yang sesungguhnya, harap bila ada kesamaan namanya dimaklumi karena bukan disengaja.
Bila best ceritanya harap komentar dibawah, bila kurang dalam bahasa dapat dimaklumi masih pemula dalam menulis kisah orang😊.
🖎Bila ada masukan dan kritikan juga saran silahkan diisi dikolom bawah ini👇
F_F
No comments:
Post a Comment